Juve ke Berlin, Biarkan Madrid Terperangkap dalam Kutukan

Posted in Berita Bola, Liga Champions on May 15, 2015 by

JUVE-MENANG

Agen Sbobet Terpercaya – Semenjak 2003, Juventus belum lagi dekat dengan trofi Liga Champions. Tapi, apa yang terjadi di Santiago Bernabeu pada Hari kamis 14 Mei 2015 dini hari WIB mengakhiri catatan buruk itu serta Nyonya Tua pun kian mendekati sejarah.

Pada laga leg kedua semifinal, Juventus turun ke lapangan dengan modal kemenangan 2-1 di Juventus Stadium, sepekan sebelumnya. Namun, harapan mereka nyaris sirna, selepas CR7 mencetak gol lewat titik putih pada babak pertama.

Dalam situasi 0-1, Madrid yang akan lolos, lantaran memiliki kelebihan gol tandang. Namun di babak kedua, tim didikan Massimiliano Allegri mengubah segalanya. Gol yang dilesakkan eks pesepakbola El Real, Alvaro Morata akhirnya menjadikan skor menjadi 1-1.

Sampai laga selepas, tidak ada gol tambahan tercipta. Juventus pun meraih tiket final serta akan berhadapan dengan El Barca. Sementara Madrid mesti mengubur mimpi mereka mempertahankan gelar serta menciptakan El Clasico di final.

Selepas laga, luapan kegembiraan tidak dapat ditutupi oleh penjaga Gawang juga kapten Nyonya Tua, Gianluigi Buffon. Serta, tidak mau terlalu larut, penjaga Gawang gaek tersebut berharap dapat mengulangi hal sama pada final melawan Barca nanti.

“Ini tampaknya telah jadi takdir, namun ini benar-benar berjalan sesuai yang kami harapkan. Walau demikian, kami tak boleh ke sana untuk sekadar jadi turis,” ujar Buffon, sebagaimana dikutip Football Italia.

“Kami ada di sana untuk memainkan sebuah laga yang berarti sangat besar untuk kami semua. Aku sungguh bangga dengan rekan-rekan setim, atas semua kerja keras yang sudah kami lakukan serta perjalanan yang kami lewati,” lanjutnya.

Sang juru taktik, Allegri berujar bahwa timnya memang lebih layak ke partai puncak ketimbang Madrid. Manager asal Italia yang pernah membawa AC Milan meraih satu Scudetto itu pun menyanjung penampilan skuad besutannya, walau bermain di bawah tekanan.

“Ini hasil yang luar biasa, menyingkirkan El Real. Tim ini sudah menghadapi banyak rintangan. Kami selalu berupaya tampil baik serta meningkatkan permainan sepanjang waktu,” ujar Allegri selepas laga kepada Mediaset.

“Sebuah kepuasaan luar biasa sukses melaju ke final, kami layak dengan hasil ini. Tidak mudah bermain di Santiago Bernabeu, namun anak-anak bermain dengan konsentrasi yang besar serta atas hal ini, mereka pantas memperoleh sanjungan.”

Sementara di pihak Madrid, manager Carlo Ancelotti berujar bahwa timnya hanya kurang beruntung di pertandingan itu, walaupun memiliki banyak peluang untuk mencetak gol. Malahan, Don Carletto mengatakan penampilan El Real sejatinya terbilang memuaskan.

“Kami mengontrol laga, namun kami tak beruntung untuk dapat mencetak gol lebih banyak. Kami mempunyai banyak kesempatan mencetak gol kedua, namun tak mampu melakukannya,” kata Ancelotti, sebagaimana dikutip situs resmi UEFA.

“Kami telah kalah semenjak leg pertama di Turin. Malam ini aku pikir kami menampilkan permainan terbaik, namun hanya tak beruntung,” imbuh lelaki asal Italia yang adalah eks manager AC Milan, The Blues, serta Paris Saint-Germain (PSG) tersebut.

Final kedelapan serta peluang akhiri penantian panjang

Bagi Juventus, ini adalah final kedelapan sepanjang keikutsertaan mereka di ajang Liga Champions. Pamungkas kali mereka ke final adalah pada musim 2002-03, di mana tercipta All-Italian Final melawan Milan. Sayangnya, saat itu mereka kalah adu penalti.

Malahan pada dua final sebelumnya, musim 1996-97 serta 1997-98, Nyonya Tua pun urung kampiun lantaran ditumbangkan Borussia Dortmund serta Madrid. Adapun pamungkas kali mereka kampiun adalah pada 1995-96, selepas menumbangkan Ajax di final.

Allegri sadar, catatan buruk Juventus di pertandingan final berpotensi terulang, pasalnya lawan kali ini pun bukan sembarangan, El Barca. Namun, manager berumur 47 tahun tersebut menjamin timnya tidak silau akan kebesaran Barca.

“Kami tahu El Barca adalah tim yang mungkin hampir mustahil untuk dikalahkan, namun kami percaya kemampuan kami. Dalam sebuah pertandingan tunggal (final), apa pun dapat terjadi,” ujar Allegri kepada Mediaset.

“Mereka sangat mematikan di depan gawang. Namun kami tahu apa yang dapat kami lakukan. Kami akan mencoba membawa trofi kampiun ke Italia,” imbuh manager yang namanya mulai terangkat saat melatih Cagliari tersebut.

Nada optimisme juga terlontar dari mulut defender tangguh Juventus, Giorgio Chiellini, menjelang partai melawan El Barca pada 6 Juni 2015. Dikatakannya, apa yang sudah ditunjukkan di Bernabeu menjadikan tim begitu yakin di partai menentukan nanti.

“Kami membuktikan kami dapat ke final. Kini kami pergi ke Berlin dengan keyakinan kami dapat menang karena kami tim kuat serta dapat mengalahkan siapapun,” papar pesepakbola yang akan berjumpa musuh lamanya, Luis Luis Surez di final nanti.

Kutukan kampiun Liga Champions berlanjut

Sedangkan itu, kegagalan Madrid ke final memperpanjang kutukan kampiun bertahan Liga Champions. Sebagaimana diketahui, semenjak berubah format pada 1992, tidak ada satu pun tim kampiun bertahan yang dapat mengulangi pencapaian pada musim berikutnya.

Catatan buruk lainnya, Madrid belum pernah lolos dari semifinal selepas kalah di perjumpaan pertama. Lainnya itu, dalam kompetisi ini juga tercatat bahwa dari 567 duel awal yang berakhir dengan skor 2-1, hanya 49 persen yang sukses melakukan comeback.

Belum cukup hingga di situ, Misterchip juga mencatat jika Madrid memperpanjang rekor tidak pernah menang dalam 28 pamungkas dari tim-tim Italia di fase gugur kompetisi Eropa atau di delapan fase gugur secara beruntun.

Madrid pamungkas kali berjumpa tim asal Italia adalah pada fase gugur musim 2007-2008, ketika itu mereka disingkirkan AS Roma pada 16 besar. Juventus juga pernah mengalahkan Madrid di semifinal Liga Champions pada musim 2002-2003.

Pamungkas kali Madrid dapat menyingkirkan tim asal Italia, yaitu pada musim 1987-1988. Ketika itu, El Real menyingkirkan Napoli dengan agregat 3-1 pada fase knock out di kompetisi tertinggi sepakbola Eropa tersebut.

Tapi demikian, defender juga wakil kapten Madrid, Sergio Ramos ogah berlarut-larut dalam kekecewaan. Dikatakannya, banyak pelajaran yang dapat diambil dari kegagalan di semifinal Liga Champions, yang akan menjadikan tim semakin baik di masa depan.

“Anda belajar serta menarik kesimpulan dari kekalahan serta kesalahan. Namun akan menjadi sangat menyakitkan bila apa yang sudah dilakukan dalam satu musim ini dilupakan begitu saja. Kami terus bejuang sampai mencapai titik akhir,” kata Ramos sebagaimana dikutip Marca.

“Ini adalah sepakbola, yang mengajarkan kepada kami bila anda bermain dengan begitu mudah, maka anda akan pulang ke rumah,” ujar defender berumur 29 tahun, yang memperkuat Madrid semenjak 2005, selepas satu musim membela tim senior Sevilla itu.

Lainnya itu, kegagalan di Liga Champions menjadikan Madrid berpotensi hampa gelar pada musim ini. Di ajang Copa del Rey, El Real telah terdepak. Sementara di kancah La Liga, mereka dipastikan sukar mengejar El Barca, yang unggul empat poin.

Tersisa dua pertandingan, Madrid akan bertamu ke kandang Espanyol serta menjamu Getafe. Sementara Barca akan berhadapan dengan Atletico Madrid serta Deportivo La Corunda di pertandingan terakhir. Walau segalanya masih mungkin, Barca lebih difavoritkan kampiun.